Tampilkan postingan dengan label Bisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2010

Kenapa saya?

Oleh:Isa Alamsyah

dikutip dari artikel anonim di internet

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemar menulis surat padanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"

Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'"

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan.

Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Namun Ashe, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat. Ketika menerima sesuatu yang buruk ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik.

Tentang narasumber penulis.
Saya mencoba mencari penulis awal dari artikel ini tetapi tidak tahu narasumber aslinya. Semoga penulisnya mendapat nilai amal atas tulisannya.

Minggu, 24 Januari 2010

Dua anak tikus dan sepotong keju

Dua anak tikus tertegun melihat sepotong keju yang segar dan harum tergeletak di depan mereka.
Mereka mengendus-endus dari kejauhan.
Salah satu dari mereka begitu bernafsu untuk melahapnya, tapi yang satunya masih bertanya-tanya.
"Wah keju enak nih, dari harumnya saja sudah ketahuan"
"Eh, jangan dulu, mungkin itu keju busuk, buktinya tidak disimpan di lemari!"
"Mungkin saja jatuh, dari baunya aku tahu ini keju enak!"
"Eh tunggu dulu, tapi warnanya sudah kekuningkuningan"
Terus saja mereka saling berargumentasi.
Tak lama berselang induknya terengah-engah datang menghalau mereka.
Kedua anak tikus ini bersikeras dengan pendapatnya masing-masing.
Induk mereka tersenyum dan mengajak mereka naik ke atas meja dan melihat keju itu dari atas.
"Anak-anak, apa yang kalian lihat"
"Keju! yummy"
"Coba lihat lagi di sekitarnya"
"Ada kayu, ada per, ada besi, dan kawat yang terikat pada keju"
"Tahukah itu apa anak-anak"
"Tidak tahu bu!" serentak.
"Itu adalah perangkap tikus, kalau kalian mendekat keju itu, sedikit saja bergerak keju tersebut, maka besi itu akan menjepit kalian dan kalian akan tertangkap atau mati!"

Apa hikmah kisah di atas :
Untuk pebisnis ini adalah kisah tentang bisnis yang menggiurkan.
Seringkali kita melakukan usaha, kita hanya fokus pada keuntungannya saja. Kita bicara tentang berapa modal, berapa keuntungan dan prospek bisnisnya yang sangat menguntungkan. Begitu cepat balik modalnya.
Padahal kalau kita naik ke atas, melihat dengan pandangan lebih luas, kita bisa melihat adanya persaingan, adanya resiko dan tantangan.
Melihat lebih jelas membuat kita bisa membuat keputusan investasi lebih bijak.

Untuk orang tua ini adalah kisah tentang prestasi anak yang menggiurkan.
Banyak orang tua begitu bangga melihat anaknya juara kelas, berprestasi masuk kuliah dan lulus. Seolah olah masa depan sudah di depan mata.
Mereka melihat pendidikan sekolah seperti keju yang menggiurkan.
Padahal di dunia nyata, sekolah hanya unsur kecil dari kesuksesan seseorang.
Banyak sarjana ngangggur, kalau dapat pekerjaaan pun hanya jadi pegawai biasa. Sebagian besar sekolah sekarang tidak disiapkan untuk membuat anak-anak kita menjadi orang yang luar biasa.
Kenyataannya kalau kita ke bank, mau beli mobil, beli rumah, bukan ijazah yang ditanya, tapi account tabungan dan deposito.
Sekolah memang penting, tapi jangan jadikan satu-satunya bekal.
Apalagi kalau sekolah dijadikan sebagai satu-satunya bekal pendidikan, bisa berbahaya.
Jadi orang tua harus menyiapkan anak skill lain di luar sekolah, bahkan percaya atau tidak lebih dari 70% orang berpenghasilan justru dari skill non sekolah.
Fakta ini bisa dengan mudah kita temukan di dunia nyata.

Untuk kehidupan.
Banyak di antara kita terbuai dengan gemerlapnya dunia, padahal dunia hanya transit belaka. Kalau kita terlalu terlena di tempat transit bisa-bisa kita tertinggal pesawat yang menuju tujuan utama hidup manusia. Kebahagiaan yang kekal.

Semoga saja hidup kita tidak terlena dengan kenikmatan yang membuaikan dan membuat kita terjebak pada keterpurukan.

By: Isa Alamsyah

Mencari jam tangan yang hilang

Mencari Jam tangan yang hilang
Ditulis oleh Isa Alamsyah

Di sebuah peternakan besar seorang pekerja tanpa sengaja menjatuhan jam tangannya ke dalam tumpukan jerami, ketika ia sedang menaiki tangga.
Sebuah jam tangan mekanik buatan Swiss yang diwariskan dari kakeknya.
Tentu saja ia sangat panik, dan ia segera turun mencarinya.
Ia mengaduk-aduk jerami tapi tidak menemukan.
Temannya juga berdatangan ikut membantu, mengaduk-aduk jerami tapi tidak menemukan. Suasana semakin heboh.
Setelah sekian lama mereka masih tidak menemukan, datang seorang ustadz yang kebetulan sejak tadi mendengar keributan ini.
Bukannya menolong, si ustadz malah santai tiduran di jerami.
Belum selesai para pekerja bingung melihat kelakuan sang ustadz, dengan santai sang ustadz malah menempelkan telunjuknya di mulut sambil berkata "sssttt".
Sekalipun heran dengan tingkah laku sang ustadz para pekerja menuruti saja. Mereka diam, sambil kebingungan dan tetap mencari.
Anehnya tak berapa lama, tiba tiba sang ustadz merogoh salah satu bagian jerami dan menemukan jam tersebut.
"Bagaimana bisa?" seru pemilik jam tersebut dan teman-temannya menuinggu jawaban.
"Mudah saja, saya mencarinya dengan mendengarkan detak-detik suara jam ini" Seru sang ustadz sambil berlalu.

Apa hikmahnya?
Ada dua hal yang kita bisa ambil dari kisah ini.
Pertama kadang kita butuh keheningan, suasana yang berbeda untuk merefresh diri kita.
Kepanikan kerja, tekanan hidup, sering membuat kita terjebak dalam kehirukpikukan dunia, dan terjebak seolah tidak ada jalan keluar.
Ibadah, terutama ibadah malam, merupakan salah satu cara menenangkan hati dan pikiran sambil melakukan perenungan tentunya.

Hikmah kedua adalah, berpikir di luar kotak (di luar kebiasaan)
Ketika semua berpikir mencari dengan melihat, satu orang datang dan mencari dengan cara mendengar.
Berpikir di luar cara berpikir umum membuat kita bisa melepaskan diri dari berbagai permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.
Karena itu kalau ada masalah, coba renungkan tenangkan diri dan pikirkan sesuatu yang sama sekali berbeda mengatasinya, Anda akan takjub dengan ide brilian yang mungkin muncul.

Salam, bisa!
Karena kita semua bisa!