Sabtu, 23 Januari 2010

Untuk Indonesiaku

(cerita kali ini lain dari biasanya, dan mungkin ada yang pro dan kontra terhadap isinya)

Pada suatu hari, seorang laki-laki tak dikenal mendatangi seorang anak yang sedang bermain di jalan depan rumahnya. Laki-laki tersebut membujuk si Anak untuk mengambil barang berharga dari dalam rumahnya.

“Dik, mau tidak mengambil dompet dan kotak perhiasan dari dalam rumah Adik? Nanti Om kasih permen deh.” Tanya laki-laki sembari membujuk dan menunjukkan permen yang terlihat mahal dan enak.

“Permen ya Om? Gimana ya?” jawab ragu-ragu si Anak.

“Permen ini enak lho, di sini tidak ada yang jual. Om kasih deh 10 permen deh, asal jangan sampai tahu Bapak dan Ibu Adik.” Rayu laki-laki asing itu.

“10 permen Om????? Oke deh kalau begitu.” Jawab si Anak itu bersemangat seperti mendapat rejeki nomplok.

Maka, diambilah secara diam-diam kotak perhiasan dan dompet milik orangtuanya. Kemudian diserahkanlah kotak perhiasan dan dompet tersebut kepada laki-laki itu. Si Anak kecil pun mendapatkan permen yang diinginkannya. Ia meloncat-loncat, berlarian, berteriak senang kegirangan. Dipamerkannya permen itu pada teman-temannya, bahkan ia menyombongkannya.

Sahabat Indonesia,

Mungkin anak kecil tersebut terkesan sangat bodoh dan tolol. Tapi coba renungkanlah hal ini:

Semua itu menggambarkan kondisi berbagai perusahaan asing yang selama ini berada di Indonesia, baik berupa pertambangan, perindustrian, dsb. Mereka mengekploitasi atau mengeruk aset kekayaan negara. Dengan lembut ia memperkerjakan rakyat Indonesia, memanfaatkan tenaga, pikiran, kemampuan kita dengan alasan mengurangi pengangguran dan menciptakan lapangan kerja.

Memang benar mereka menciptakan lapangan kerja, tapi pekerjaan apa? Mencuri dompet dan kotak perhiasan milik sendiri? Menebang kayu hutan milik sendiri? Menambang emas, nikel, bijih besi, dsb kemudian memberikannya kepada negara asing dengan harapan agar dikasih “permen”? Atau ditukar dengan selembar kertas yang bertuliskan dollar? Sedangkan mereka sendiri lebih pandai berpolitik dan berstrategi agar “1$ mampu membeli 1 pulau di Indonesia.”

Karena “1$ mampu membeli 1 pulau” ini, nilai dari tenaga kerja kita sangat rendah sekali. Coba bayangkan: Bagaimana kita memandang dan memperlakukan orang asing yang berada di negara kita, bandingkan mereka memandang dan memperlakukan orang kita jika di negaranya?

Kenapa tidak kita kelola sendiri saja semua aset dan kekayaan negara? Sehingga rakyat Indonesia mampu menjadi pengusaha, bukan sekedar “buruh”. Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia? Sehingga lulusannya cenderung dimanfaatkan sebagai “mesin” bagi perusahaan asing itu.

Ini mungkin sedikit alasan mengapa perkembangan di negara kita tertinggal jauh dengan negara asing tersebut. Saya bukan ahli politik, ekonomi, atau bukan negarawan. Namun, sebagai seorang rakyat Indonesia saya mempunyai pandangan sendiri untuk turut serta memajukan Indonesia, dan bila diberi kesempatan akan saya tuangkan semua pandangan itu ke dalam sebuah buku.

Mari kita renungkan cerita di atas, lakukan saja segala upaya untuk kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia, dan ..... Mulailah dari diri sendiri.

Salam Indonesia


By: Wahyu Kushardiyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar